Komunikasi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.
Dahulu, seseorang mungkin hanya berkomunikasi dengan orang-orang yang berada di sekitarnya. Sekarang, satu kalimat yang ditulis di media sosial dapat dibaca oleh ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang.
Kemudahan berkomunikasi tentu membawa banyak manfaat. Kita dapat menyampaikan ilmu, berbagi informasi, berdakwah, membangun silaturahmi, dan menyebarkan kebaikan dengan cepat.
Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan.
Komentar yang ditulis tanpa berpikir panjang dapat menyakiti orang lain. Berita yang belum diperiksa dapat menyebarkan fitnah. Candaan dapat berubah menjadi penghinaan. Perdebatan dapat berkembang menjadi permusuhan.
Dalam kondisi seperti ini, ajaran Islam mengenai menjaga lisan menjadi semakin relevan.
Menjaga lisan bukan hanya berarti tidak mengucapkan kata-kata buruk. Lebih luas dari itu, menjaga lisan berarti belajar menggunakan ucapan untuk menyampaikan kebenaran, kebaikan, dan manfaat serta menghindari perkataan yang merusak hubungan antarmanusia.
Baca Juga : Hikmah Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW: Meneladani Akhlak dan Perjuangan Rasulullah
Perintah Berkata Baik
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.”
(QS. Al-Isra: 53)
Ayat tersebut memberikan pelajaran penting bahwa seorang Muslim tidak hanya diperintahkan untuk berbicara, tetapi juga memilih perkataan yang terbaik.
Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang seseorang benar dalam isi pembicaraan tetapi salah dalam cara menyampaikannya.
Karena itu, kebenaran perlu disampaikan dengan cara yang baik.
Tidak Semua yang Benar Harus Disampaikan dengan Cara yang Kasar
Ada perbedaan antara tegas dan kasar.
Ketegasan berkaitan dengan prinsip.
Kekasaran berkaitan dengan cara.
Seseorang dapat menyampaikan pendapat yang tegas tanpa merendahkan orang lain.
Misalnya, daripada mengatakan:
“Pendapatmu bodoh.”
lebih baik mengatakan:
“Saya memiliki pandangan yang berbeda. Menurut saya, ada pertimbangan lain yang perlu diperhatikan.”
Pesannya tetap dapat disampaikan, tetapi tanpa penghinaan.
Menjaga Lisan Bukan Berarti Tidak Boleh Mengkritik
Islam tidak mengajarkan manusia untuk selalu diam ketika melihat kesalahan.
Nasihat dan kritik dapat menjadi bentuk kepedulian.
Yang perlu diperhatikan adalah:
• niat;
• cara penyampaian;
• kebenaran informasi;
• tempat;
• waktu;
• dampaknya.
Kritik yang bertujuan memperbaiki berbeda dengan ucapan yang bertujuan mempermalukan.
Tabayyun Sebelum Menyebarkan Informasi
Di era digital, salah satu bentuk menjaga lisan adalah memeriksa informasi sebelum menyebarkannya.
Allah SWT berfirman:
فَتَبَيَّنُوا
“Maka telitilah kebenarannya.”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini memberikan prinsip penting tentang kehati-hatian dalam menerima berita.
Di media sosial, informasi dapat menyebar sangat cepat.
Karena itu, sebelum menekan tombol share, seseorang perlu bertanya:
Apakah informasi ini benar?
Dari mana sumbernya?
Apakah konteksnya lengkap?
Apakah menyebarkannya memberikan manfaat?
Jangan Mudah Menjadi Penyebar Kabar
Sebuah informasi yang belum terverifikasi dapat menimbulkan akibat besar.
Misalnya:
Informasi Salah → Disebarkan → Dipercaya → Menimbulkan Tuduhan → Merusak Nama Baik
Kesalahan awal mungkin hanya berasal dari satu unggahan.
Tetapi ketika ribuan orang menyebarkannya, dampaknya menjadi jauh lebih besar.
Karena itu, kehati-hatian dalam membagikan informasi merupakan bagian dari tanggung jawab moral.
Baca juga : Tawakal dalam Islam: Berserah Diri kepada Allah Setelah Berusaha dengan Sungguh-Sungguh
Bahaya Ghibah
Salah satu bentuk ucapan yang harus dihindari adalah ghibah.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ghibah adalah menyebutkan sesuatu tentang saudara kita yang ia tidak sukai.
Allah SWT juga memberikan peringatan keras mengenai ghibah dalam QS. Al-Hujurat ayat 12.
Allah berfirman:
وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.”
Ghibah sering kali muncul dalam percakapan sehari-hari tanpa disadari.
Ghibah di Media Sosial
Ghibah tidak terbatas pada percakapan langsung.
Di era digital, seseorang dapat melakukan hal serupa melalui:
• komentar;
• unggahan;
• status;
• grup percakapan;
• video;
• meme;
• sindiran.
Kalimat seperti:
“Saya tidak menyebut namanya, tapi semua orang tahu siapa dia.”
tetap perlu dipertimbangkan dengan hati-hati jika maksudnya adalah membicarakan keburukan seseorang.
Fitnah dan Tuduhan
Lebih berbahaya lagi ketika seseorang menyampaikan informasi yang tidak benar tentang orang lain.
Tuduhan yang tidak berdasarkan fakta dapat merusak:
• kehormatan;
• hubungan keluarga;
• pekerjaan;
• reputasi;
• kepercayaan.
Karena itu, seorang Muslim perlu berhati-hati ketika berbicara mengenai kehormatan orang lain.
Hindari Saling Menghina
Allah SWT berfirman:
لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ
“Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain.”
(QS. Al-Hujurat: 11)
Ayat tersebut sangat relevan dengan budaya komentar di internet.
Seseorang dapat dengan mudah menjadikan:
• fisik;
• pekerjaan;
• pendidikan;
• keluarga;
• kesalahan masa lalu;
sebagai bahan ejekan.
Padahal, apa yang dianggap sebagai candaan oleh satu orang dapat menjadi luka bagi orang lain.
Jangan Memanggil dengan Gelar yang Buruk
Dalam ayat yang sama, Allah juga melarang saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.
Ini mengajarkan bahwa bahasa memiliki kekuatan untuk membangun maupun merusak harga diri seseorang.
Sebuah panggilan yang dianggap lucu oleh kita belum tentu diterima dengan baik oleh orang lain.
Menjaga Lisan Saat Marah
Marah sering membuat seseorang mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia katakan.
Karena itu, kemampuan mengendalikan ucapan saat emosi merupakan bagian dari akhlak.
Ketika marah:
Berhenti → Tenangkan Diri → Pikirkan Dampak → Baru Berbicara
Tidak semua respons harus diberikan seketika.
Terkadang diam beberapa saat jauh lebih baik daripada mengucapkan kalimat yang kemudian disesali.
Diam Juga Bisa Menjadi Pilihan
Menjaga lisan bukan berarti harus selalu berbicara.
Ada saatnya diam lebih baik.
Sebelum berbicara, kita dapat bertanya:
Apakah ini benar?
Apakah ini perlu?
Apakah ini bermanfaat?
Apakah cara penyampaiannya baik?
Jika jawabannya tidak, diam mungkin menjadi pilihan yang lebih bijaksana.
Hadis tentang Berkata Baik atau Diam
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Pesannya sangat sederhana tetapi mendalam.
Seorang Muslim tidak hanya bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan, tetapi juga perlu memperhatikan apa yang ia ucapkan.
Jari Kita Juga Perlu Dijaga
Di zaman digital, “lisan” dapat dipahami secara lebih luas dalam konteks komunikasi.
Apa yang kita tulis melalui jari juga dapat membawa dampak seperti ucapan.
Komentar, status, pesan, dan unggahan dapat menjadi sarana kebaikan.
Tetapi semuanya juga dapat menjadi sumber masalah jika digunakan tanpa pertimbangan.
Karena itu:
Jaga lisan.
Jaga tulisan.
Jaga komentar.
Jaga unggahan.
Baca Juga : Jujur dalam Islam: Fondasi Kepercayaan dan Kemuliaan Akhlak
Etika Berdiskusi di Media Sosial
Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar.
Namun, perbedaan pendapat tidak harus berubah menjadi permusuhan.
Beberapa prinsip yang dapat diterapkan:
Fokus pada Gagasan
Kritik argumennya, bukan pribadi orangnya.
Hindari Penghinaan
Perbedaan pendapat tidak memberikan alasan untuk merendahkan.
Gunakan Bahasa yang Sopan
Kata-kata yang baik dapat membuat diskusi lebih produktif.
Akui Jika Salah
Mengakui kesalahan bukan tanda kelemahan.
Jangan Memaksakan Diri untuk Menang
Tujuan diskusi seharusnya mencari kebenaran, bukan sekadar memenangkan perdebatan.
Ketika Berbeda Pendapat dengan Orang Lain
Islam mengajarkan umatnya untuk berdialog dengan cara yang baik.
Allah SWT berfirman:
وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”
(QS. An-Nahl: 125)
Ayat ini menunjukkan bahwa bahkan ketika terjadi perbedaan pandangan, cara berkomunikasi tetap harus diperhatikan.
Jangan Membalas Keburukan dengan Keburukan
Ketika seseorang menulis komentar kasar, godaan pertama mungkin adalah membalas dengan komentar yang lebih kasar.
Namun, membalas keburukan dengan keburukan sering kali hanya memperpanjang konflik.
Pilihan yang lebih bijak dapat berupa:
• menjawab dengan tenang;
• mengklarifikasi;
• mengabaikan;
• memblokir jika diperlukan;
• melaporkan konten yang melanggar aturan platform.
Menjaga akhlak tidak berarti membiarkan diri terus-menerus disakiti.
Pentingnya Husnuzan
Tidak semua ucapan orang lain harus langsung ditafsirkan dengan prasangka buruk.
Allah SWT berfirman:
اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ
“Jauhilah banyak dari prasangka.”
(QS. Al-Hujurat: 12)
Dalam komunikasi digital, konteks sering kali tidak lengkap.
Sebuah kalimat pendek dapat disalahpahami karena kita tidak melihat ekspresi dan intonasi orang yang menulisnya.
Karena itu, sebelum memberikan penilaian, sebaiknya kita berusaha memahami konteks.
Hindari Membuka Aib Orang Lain
Kehidupan pribadi seseorang bukan bahan konsumsi publik.
Kesalahan seseorang tidak otomatis menjadi sesuatu yang pantas disebarluaskan.
Jika suatu masalah dapat diselesaikan secara pribadi, menyebarkannya ke publik sering kali justru memperbesar masalah.
Menutup aib bukan berarti membenarkan kesalahan.
Terkadang justru merupakan bentuk kasih sayang dan menjaga kehormatan manusia.
Berkomunikasi dengan Keluarga
Menjaga lisan seharusnya dimulai dari lingkungan terdekat.
Kita terkadang sangat sopan kepada orang lain tetapi mudah berbicara kasar kepada keluarga.
Padahal keluarga adalah orang-orang yang paling sering berinteraksi dengan kita.
Cobalah membiasakan:
• mengucapkan terima kasih;
• meminta maaf;
• berbicara dengan lembut;
• tidak membentak;
• menghargai pendapat;
• memberikan apresiasi.
Akhlak yang baik seharusnya terlihat dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya di depan publik.
Menjaga Lisan di Tempat Kerja
Prinsip yang sama berlaku di lingkungan kerja.
Hindari:
• menyebarkan gosip;
• menjatuhkan rekan;
• mempermalukan bawahan;
• menyebarkan informasi pribadi;
• membicarakan keburukan orang tanpa kebutuhan yang benar.
Sebaliknya, biasakan:
• komunikasi jelas;
• kritik konstruktif;
• apresiasi;
• saling menghormati;
• menyelesaikan masalah secara langsung.
Lingkungan kerja yang sehat membutuhkan komunikasi yang sehat.
Menjaga Lisan dalam Berdakwah
Dakwah membutuhkan ilmu sekaligus akhlak.
Allah SWT berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.”
(QS. An-Nahl: 125)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa menyampaikan kebaikan juga membutuhkan hikmah.
Tujuan dakwah bukan sekadar membuat orang kalah dalam perdebatan.
Tujuannya adalah menyampaikan kebenaran dengan cara yang dapat diterima dan memberikan manfaat.
Ketika Mendapat Berita yang Mengejutkan
Berita mengejutkan sering memicu reaksi spontan.
Sebelum membagikannya, lakukan beberapa langkah:
Berhenti.
Periksa sumber.
Cari konteks.
Bandingkan dengan sumber yang terpercaya.
Pikirkan dampaknya.
Baru kemudian tentukan apakah informasi tersebut memang perlu dibagikan.
Tiga Jenis Konten Sebelum Dibagikan
Kita dapat mengelompokkan konten secara sederhana.
Konten yang Bermanfaat
Informasi yang benar dan memberikan manfaat.
Layak dibagikan.
Konten yang Belum Jelas
Informasi yang belum diketahui kebenarannya.
Sebaiknya ditahan.
Konten yang Merugikan
Konten yang mengandung penghinaan, fitnah, atau membuka aib.
Sebaiknya tidak disebarkan.
Jadikan Media Sosial sebagai Ladang Kebaikan
Media sosial tidak selalu identik dengan masalah.
Jika digunakan dengan baik, media sosial dapat menjadi sarana:
• berbagi ilmu;
• mengingatkan kebaikan;
• mempererat silaturahmi;
• mendukung usaha orang lain;
• menyebarkan informasi bermanfaat;
• membantu orang yang membutuhkan.
Satu unggahan yang baik mungkin memberikan manfaat kepada seseorang yang tidak pernah kita kenal.
Setiap Kata Memiliki Dampak
Sebuah kalimat mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk ditulis.
Namun, dampaknya dapat bertahan jauh lebih lama.
Komentar positif dapat membuat seseorang bersemangat.
Sebaliknya, komentar yang merendahkan dapat membuat seseorang kehilangan kepercayaan diri.
Karena itu, sebelum berbicara atau menulis, mari mengingat bahwa di balik layar terdapat manusia dengan perasaan dan kehormatan.
Latihan Menjaga Lisan Selama 7 Hari
Kebiasaan dapat dibangun secara bertahap.
Hari 1
Hindari komentar negatif yang tidak perlu.
Hari 2
Periksa informasi sebelum membagikannya.
Hari 3
Berikan satu pujian yang tulus.
Hari 4
Hindari membicarakan keburukan orang lain.
Hari 5
Tahan respons ketika sedang marah.
Hari 6
Gunakan media sosial untuk berbagi sesuatu yang bermanfaat.
Hari 7
Evaluasi ucapan dan tulisan selama satu minggu.
Latihan sederhana ini dapat menjadi awal untuk membangun kebiasaan komunikasi yang lebih baik.
Muhasabah Sebelum Berbicara
Sebelum mengucapkan atau menulis sesuatu, kita dapat melakukan muhasabah singkat:
Apakah ini benar?
Apakah ini baik?
Apakah ini perlu?
Apakah ini akan menyakiti orang lain?
Apakah saya rela jika kalimat ini dibaca banyak orang?
Jika kita membiasakan pertanyaan tersebut, kita akan lebih berhati-hati dalam menggunakan kata-kata.
Penutup
Menjaga lisan merupakan salah satu bagian penting dari akhlak seorang Muslim.
Di era digital, tantangannya menjadi semakin besar karena komunikasi dapat dilakukan dengan sangat cepat dan menjangkau banyak orang.
Satu komentar dapat menjadi kebaikan.
Satu unggahan dapat menjadi ilmu.
Namun, satu tuduhan juga dapat merusak kehormatan seseorang.
Karena itu, Islam mengajarkan umatnya untuk berkata baik, melakukan tabayyun, menjauhi ghibah, menghindari penghinaan, serta menjaga komunikasi dengan hikmah.
Menjaga lisan bukan berarti kehilangan kebebasan berbicara.
Justru, menjaga lisan berarti menggunakan kebebasan tersebut dengan tanggung jawab.
Sebelum berbicara, berpikirlah.
Sebelum menulis, periksalah.
Sebelum membagikan, pastikan kebenarannya.
Dan sebelum menyakiti orang lain dengan kata-kata, ingatlah bahwa kita juga tidak ingin diperlakukan demikian.
Semoga lisan kita menjadi jalan menuju kebaikan, bukan sumber penyesalan.
FAQ
Apa arti menjaga lisan dalam Islam?
Menjaga lisan berarti mengendalikan ucapan agar digunakan untuk kebenaran, kebaikan, dan manfaat serta menjauhi kebohongan, ghibah, fitnah, penghinaan, dan perkataan yang merugikan.
Apakah menjaga lisan berlaku di media sosial?
Ya. Dalam konteks modern, prinsip menjaga lisan juga relevan dengan komentar, pesan, unggahan, dan konten yang kita sebarkan.
Apa yang harus dilakukan sebelum membagikan berita?
Lakukan tabayyun dengan memeriksa sumber, kebenaran informasi, konteks, dan dampaknya sebelum menyebarkannya.
Apakah kritik diperbolehkan dalam Islam?
Kritik dapat dilakukan selama bertujuan memperbaiki, berdasarkan kebenaran, dan disampaikan dengan cara yang baik serta tidak bertujuan menghina atau mempermalukan.
Apa hubungan ghibah dengan media sosial?
Ghibah tidak terbatas pada percakapan langsung. Membicarakan keburukan seseorang melalui komentar, pesan, unggahan, atau media digital juga perlu dihindari.
Bagaimana cara menjaga lisan ketika sedang marah?
Berhenti sejenak, menenangkan diri, mempertimbangkan dampak ucapan, kemudian berbicara ketika emosi sudah lebih terkendali.
