A. Pengantar: Mengapa Penelitian Dimulai dari Masalah?
Penelitian tidak dimulai dari keinginan untuk menggunakan metode tertentu, mencari judul yang terdengar menarik, atau sekadar mengikuti tren.
Penelitian dimulai dari adanya masalah atau pertanyaan yang membutuhkan jawaban secara ilmiah.
Secara sederhana:
Fenomena → Masalah → Identifikasi Masalah → Batasan Masalah → Research Gap → Rumusan Masalah → Tujuan Penelitian
Contohnya:
Di sebuah sekolah terlihat bahwa penggunaan media pembelajaran digital semakin meningkat. Namun, belum diketahui apakah penggunaan media digital tersebut benar-benar berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa.
Fenomena tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi masalah penelitian:
Apakah penggunaan media pembelajaran digital berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa?
Dari sinilah penelitian kuantitatif mulai dibangun.
B. Pengertian Masalah Penelitian
Masalah penelitian adalah kesenjangan antara kondisi yang seharusnya terjadi dengan kondisi yang sebenarnya terjadi, atau adanya pertanyaan ilmiah yang belum memperoleh jawaban yang memadai.
Ada beberapa bentuk kesenjangan yang dapat menjadi masalah penelitian.
- Kesenjangan antara teori dan praktik
Misalnya:
Menurut teori, penggunaan media pembelajaran interaktif dapat meningkatkan keterlibatan siswa.
Namun, dalam praktiknya, guru sudah menggunakan media interaktif tetapi keterlibatan siswa masih rendah.
Muncul pertanyaan:
Mengapa kondisi tersebut terjadi? - Kesenjangan antara harapan dan kenyataan
Contoh:
Harapan: mahasiswa mampu menggunakan teknologi digital dalam pembelajaran.
Kenyataan: sebagian mahasiswa masih mengalami kesulitan menggunakan aplikasi pembelajaran.
Kondisi tersebut dapat menjadi titik awal penelitian. - Kesenjangan antara hasil penelitian terdahulu
Misalnya:
Penelitian A menemukan bahwa penggunaan media digital berpengaruh terhadap hasil belajar.
Penelitian B justru menemukan bahwa pengaruhnya tidak signifikan.
Perbedaan hasil tersebut dapat menjadi research gap. - Kesenjangan antara kelompok atau kondisi
Contoh:
Apakah terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang belajar menggunakan media video dan siswa yang belajar menggunakan media konvensional?
C. Sumber Masalah Penelitian
Masalah penelitian tidak selalu muncul dari satu sumber. Peneliti dapat menemukan masalah dari berbagai sumber.
- Fenomena di Lapangan
Sumber masalah yang paling sering digunakan adalah fenomena nyata yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh:
• rendahnya motivasi belajar;
• rendahnya hasil belajar;
• penggunaan teknologi yang belum optimal;
• rendahnya literasi digital;
• rendahnya minat membaca;
• tingginya penggunaan media sosial;
• rendahnya partisipasi mahasiswa dalam pembelajaran.
Contoh dalam pendidikan
Dosen menemukan bahwa mahasiswa sudah menggunakan berbagai platform digital, tetapi tingkat keterlibatan mereka dalam pembelajaran daring masih rendah.
Fenomena tersebut dapat menjadi sumber masalah penelitian. - Hasil Observasi
Masalah dapat ditemukan melalui pengamatan langsung.
Misalnya seorang mahasiswa melakukan observasi di sekolah dan menemukan:
Guru sudah menggunakan PowerPoint dalam pembelajaran, tetapi siswa masih cenderung pasif.
Dari observasi tersebut dapat muncul pertanyaan:
Apakah penggunaan media pembelajaran digital berpengaruh terhadap keaktifan belajar siswa? - Hasil Wawancara
Wawancara dengan guru, siswa, kepala sekolah, dosen, mahasiswa, pelaku UMKM, atau masyarakat dapat mengungkap masalah yang belum terlihat secara langsung.
Contoh:
Hasil wawancara dengan guru:
“Siswa sekarang lebih tertarik belajar menggunakan video, tetapi saya belum mengetahui apakah video benar-benar meningkatkan hasil belajar.”
Pernyataan tersebut dapat dikembangkan menjadi masalah penelitian. - Pengalaman Praktis
Pengalaman peneliti dalam pekerjaan atau kehidupan sehari-hari juga dapat menjadi sumber masalah.
Misalnya:
Seorang guru menemukan bahwa penggunaan metode pembelajaran tertentu menghasilkan respons yang berbeda pada kelas yang berbeda.
Hal tersebut dapat mendorong penelitian untuk mengetahui faktor penyebabnya.
Catatan penting: pengalaman pribadi dapat menjadi sumber ide, tetapi harus dikembangkan menjadi masalah yang objektif dan dapat diuji secara ilmiah. - Teori
Masalah penelitian juga dapat berasal dari teori.
Peneliti dapat bertanya:
Apakah teori yang selama ini berlaku masih sesuai dengan kondisi saat ini?
Misalnya teori menyatakan bahwa motivasi belajar berhubungan dengan prestasi akademik.
Peneliti kemudian menguji hubungan tersebut pada populasi tertentu. - Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu merupakan sumber masalah yang sangat penting dalam penelitian akademik.
Peneliti membaca hasil penelitian kemudian mencari:
• apa yang sudah diteliti;
• apa yang belum diteliti;
• hasil penelitian yang berbeda;
• keterbatasan penelitian;
• populasi yang belum diteliti;
• variabel yang belum dikaji;
• metode yang belum digunakan;
• konteks yang berbeda.
Dari sinilah research gap dapat ditemukan. - Kebijakan atau Perubahan Regulasi
Perubahan kebijakan dapat memunculkan masalah penelitian.
Contoh:
Adanya kebijakan baru dalam pembelajaran berbasis teknologi dapat menimbulkan pertanyaan:
Seberapa efektif implementasi kebijakan tersebut terhadap kualitas pembelajaran?
D. Identifikasi Masalah
- Pengertian
Identifikasi masalah adalah proses menemukan, mengenali, dan memetakan berbagai persoalan yang berkaitan dengan fenomena penelitian.
Pada tahap ini peneliti belum harus menentukan satu masalah final.
Peneliti terlebih dahulu mengumpulkan berbagai masalah yang mungkin muncul.
Contoh
Fenomena:
Penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran semakin meningkat.
Dari fenomena tersebut dapat diidentifikasi beberapa masalah: - Tidak semua guru memiliki kompetensi digital yang sama.
- Sebagian siswa belum mampu menggunakan teknologi secara produktif.
- Intensitas penggunaan media digital berbeda antar kelas.
- Penggunaan teknologi belum tentu meningkatkan hasil belajar.
- Motivasi belajar siswa masih bervariasi.
- Belum diketahui hubungan kompetensi digital guru dengan kualitas pembelajaran.
- Belum diketahui pengaruh penggunaan media digital terhadap hasil belajar.
Dari beberapa masalah tersebut, peneliti kemudian menentukan masalah yang paling layak diteliti.
E. Cara Melakukan Identifikasi Masalah
Gunakan pertanyaan berikut:
- Apa yang terjadi?
Menggambarkan fenomena. - Apa yang seharusnya terjadi?
Menggambarkan kondisi ideal. - Apa kesenjangannya?
Membandingkan kondisi ideal dengan kondisi nyata. - Mengapa kesenjangan tersebut penting?
Menentukan signifikansi masalah. - Siapa yang mengalami masalah?
Menentukan subjek atau populasi. - Faktor apa saja yang mungkin berhubungan dengan masalah?
Mengidentifikasi kemungkinan variabel.
F. Contoh Identifikasi Masalah Penelitian Kuantitatif
Fenomena
Hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah tertentu masih belum optimal meskipun dosen telah menggunakan berbagai media pembelajaran digital.
Identifikasi masalah
Berdasarkan fenomena tersebut dapat diidentifikasi beberapa masalah:
- Hasil belajar mahasiswa masih bervariasi.
- Tingkat motivasi belajar mahasiswa berbeda-beda.
- Intensitas penggunaan media digital berbeda antar mahasiswa.
- Kemampuan literasi digital mahasiswa belum merata.
- Keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran masih rendah.
- Belum diketahui pengaruh literasi digital terhadap hasil belajar.
- Belum diketahui pengaruh motivasi belajar terhadap hasil belajar.
Pada tahap berikutnya, peneliti harus mempersempit masalah.
G. Batasan Masalah
- Pengertian
Batasan masalah adalah pembatasan ruang lingkup penelitian agar penelitian menjadi lebih fokus, terarah, realistis, dan dapat diselesaikan sesuai kemampuan peneliti.
Tanpa batasan masalah, penelitian dapat menjadi terlalu luas.
Prinsip sederhana:
Masalah penelitian yang baik bukan masalah yang paling banyak, tetapi masalah yang paling jelas dan dapat diteliti.
J. Mengapa Masalah Harus Dibatasi?
Karena penelitian memiliki keterbatasan:
• waktu;
• biaya;
• tenaga;
• kemampuan peneliti;
• akses terhadap data;
• jumlah responden;
• instrumen;
• lokasi penelitian.
Misalnya:
Terlalu luas:
Pengaruh teknologi terhadap pendidikan di Indonesia.
Penelitian seperti ini sangat luas.
Lebih terarah:
Pengaruh penggunaan media pembelajaran digital terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi PAI di STAI X.
Lebih spesifik lagi:
Pengaruh intensitas penggunaan video pembelajaran terhadap hasil belajar mahasiswa semester V Program Studi PAI STAI X pada mata kuliah Media Pembelajaran PAI.
H. Unsur-Unsur yang Dapat Dibatasi
Batasan masalah dapat dilakukan berdasarkan:
- Variabel
Misalnya hanya meneliti:
• X = literasi digital
• Y = hasil belajar
Tidak memasukkan motivasi, lingkungan keluarga, kecerdasan, dan variabel lainnya. - Subjek
Misalnya:
Mahasiswa semester V Program Studi PAI. - Lokasi
Misalnya:
STAI Muhammadiyah Tulungagung. - Waktu
Misalnya:
Tahun akademik 2026/2027. - Materi
Misalnya:
Pembelajaran pada mata kuliah Media Pembelajaran PAI.
I. Contoh dari Masalah Umum Menjadi Spesifik
Masalah umum
Hasil belajar mahasiswa masih rendah.
↓
Identifikasi
• motivasi belajar berbeda;
• literasi digital berbeda;
• penggunaan media pembelajaran berbeda;
• metode pembelajaran berbeda;
• lingkungan belajar berbeda.
↓
Batasan
Penelitian hanya membahas:
Pengaruh literasi digital terhadap hasil belajar mahasiswa.
↓
Lebih spesifik
Pengaruh literasi digital terhadap hasil belajar mahasiswa semester V Program Studi PAI STAI Muhammadiyah Tulungagung.
J. Research Gap
- Pengertian
Research gap adalah kesenjangan atau bagian yang belum terjawab, belum diteliti secara memadai, atau masih menimbulkan perbedaan dalam penelitian-penelitian sebelumnya.
Research gap menjadi salah satu dasar penting untuk menunjukkan mengapa penelitian baru perlu dilakukan.
Sederhananya:
Penelitian terdahulu sudah membahas sesuatu, tetapi masih ada bagian yang belum jelas, belum lengkap, atau hasilnya belum konsisten.
K. Mengapa Research Gap Penting?
Research gap membantu peneliti menjawab pertanyaan:
“Mengapa penelitian ini perlu dilakukan?”
Tanpa research gap, penelitian berisiko hanya mengulang penelitian terdahulu.
Penelitian yang baik bukan berarti harus menemukan topik yang belum pernah ada sama sekali.
Yang penting adalah terdapat alasan ilmiah yang jelas untuk melakukan penelitian.
L. Jenis-Jenis Research Gap
- Contradictory Findings Gap
Terjadi ketika penelitian terdahulu menghasilkan temuan yang berbeda.
Contoh:
Penelitian A:
Penggunaan video pembelajaran berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar.
Penelitian B:
Penggunaan video pembelajaran tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar.
Muncul pertanyaan:
Mengapa hasil penelitian tersebut berbeda?
Ini dapat menjadi research gap. - Population Gap
Penelitian sebelumnya dilakukan pada populasi tertentu, sedangkan populasi lain belum diteliti.
Contoh:
Penelitian sebelumnya dilakukan pada siswa SMA.
Belum banyak penelitian pada mahasiswa PAI.
Maka penelitian baru dapat menguji hubungan yang sama pada mahasiswa PAI. - Context Gap
Penelitian sebelumnya dilakukan dalam konteks tertentu.
Misalnya:
Penelitian dilakukan pada sekolah umum.
Sementara penelitian pada:
Sekolah Dasar Islam swasta
belum banyak dilakukan.
Perbedaan konteks dapat menjadi research gap. - Methodological Gap
Penelitian terdahulu menggunakan metode tertentu, tetapi metode lain belum digunakan secara memadai.
Misalnya penelitian sebelumnya menggunakan survei deskriptif.
Penelitian baru menggunakan pendekatan korelasional atau eksperimen. - Variable Gap
Penelitian terdahulu hanya menguji hubungan antara:
Motivasi belajar → hasil belajar
Penelitian berikutnya dapat memasukkan:
Literasi digital → motivasi belajar → hasil belajar. - Theoretical Gap
Teori yang digunakan belum sepenuhnya mampu menjelaskan fenomena tertentu.
Peneliti dapat menguji teori pada konteks yang berbeda. - Temporal Gap
Penelitian terdahulu dilakukan beberapa tahun lalu, sementara kondisi sosial dan teknologi telah berubah.
Contoh:
Penelitian penggunaan media digital dilakukan sebelum perkembangan pesat platform pembelajaran berbasis KA.
Penelitian baru dapat melihat kondisi dalam konteks pembelajaran saat ini.
M. Cara Menemukan Research Gap
Mahasiswa dapat menggunakan langkah berikut:
Langkah 1
Tentukan topik penelitian.
Contoh:
Media pembelajaran digital.
Langkah 2
Cari penelitian terdahulu.
Misalnya minimal:
• 5–10 artikel;
• jurnal nasional;
• jurnal internasional;
• penelitian terbaru;
• penelitian yang relevan.
Langkah 3
Buat tabel matriks penelitian.
| Peneliti | Tahun | Variabel | Subjek | Metode | Hasil | Keterbatasan |
| A | 2023 | X-Y | SMA | Kuantitatif | Signifikan | Populasi terbatas |
| B | 2024 | X-Y | Mahasiswa | Survei | Tidak signifikan | Sampel kecil |
| C | 2025 | X-Y-Z | Mahasiswa | Korelasional | Signifikan | Variabel terbatas |
Langkah 4
Bandingkan penelitian tersebut.
Tanyakan:
• Apakah hasilnya sama?
• Apakah populasinya sama?
• Apakah lokasinya sama?
• Apakah variabelnya sama?
• Apakah metodenya sama?
• Apakah waktunya sama?
Langkah 5
Temukan celahnya.
Misalnya:
Penelitian terdahulu menunjukkan hasil yang belum konsisten mengenai hubungan literasi digital dengan hasil belajar.
Itulah calon research gap.
N. Contoh Research Gap dalam Penelitian Pendidikan
Topik
Literasi digital dan hasil belajar mahasiswa
Penelitian terdahulu:
• Penelitian A menemukan adanya pengaruh positif.
• Penelitian B menemukan pengaruh yang tidak signifikan.
• Penelitian C menemukan bahwa pengaruh literasi digital terhadap hasil belajar dipengaruhi oleh motivasi belajar.
• Sebagian besar penelitian dilakukan pada mahasiswa perguruan tinggi umum.
• Penelitian pada mahasiswa Program Studi PAI masih terbatas.
Research gap
Dari kondisi tersebut dapat dirumuskan:
Terdapat ketidakkonsistenan hasil penelitian mengenai pengaruh literasi digital terhadap hasil belajar mahasiswa. Selain itu, penelitian yang secara khusus mengkaji hubungan tersebut pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam dalam konteks pembelajaran berbasis teknologi masih terbatas.
Dari sinilah penelitian baru memiliki alasan akademik.
O. Hubungan Identifikasi Masalah dan Research Gap
Mahasiswa sering menganggap keduanya sama. Padahal berbeda.
| Aspek | Identifikasi Masalah | Research Gap |
| Sumber | Fenomena, observasi, wawancara, teori | Penelitian terdahulu/literatur |
| Fokus | Masalah yang terjadi | Kekosongan/kesenjangan pengetahuan |
| Pertanyaan | Apa masalahnya? | Apa yang belum diketahui? |
| Tujuan | Memetakan masalah | Menemukan alasan ilmiah penelitian baru |
| Output | Daftar masalah | Pernyataan gap |
| Posisi | Lebih awal | Memperkuat urgensi penelitian |
Hubungannya:
Fenomena
↓
Identifikasi masalah
↓
Kajian penelitian terdahulu
↓
Research gap
↓
Batasan masalah
↓
Rumusan masalah
Contoh Lengkap
Misalnya mahasiswa menemukan fenomena:
Mahasiswa sudah menggunakan berbagai media digital dalam pembelajaran, tetapi hasil belajar masih beragam.
- Sumber masalah
• observasi pembelajaran;
• wawancara dosen;
• dokumentasi hasil belajar;
• penelitian terdahulu. - Identifikasi masalah
Ditemukan: - kemampuan literasi digital mahasiswa berbeda;
- penggunaan media digital berbeda;
- motivasi belajar berbeda;
- hasil belajar mahasiswa bervariasi;
- belum diketahui hubungan literasi digital dengan hasil belajar.
- Research gap
Penelitian terdahulu menunjukkan hasil yang berbeda mengenai hubungan literasi digital dan hasil belajar.
Selain itu, penelitian pada mahasiswa PAI dalam konteks pembelajaran perguruan tinggi keagamaan masih terbatas. - Batasan masalah
Penelitian dibatasi pada:
• variabel X: literasi digital;
• variabel Y: hasil belajar;
• subjek: mahasiswa semester V PAI;
• lokasi: satu perguruan tinggi;
• konteks: pembelajaran akademik. - Calon judul
Pengaruh Literasi Digital terhadap Hasil Belajar Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam. - Rumusan masalah
Apakah terdapat pengaruh literasi digital terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam?
P. Kesalahan yang Sering Dilakukan Mahasiswa
- Memulai dari judul
Mahasiswa langsung membuat judul:
“Pengaruh Media Digital terhadap Motivasi Belajar…”
tanpa mengetahui masalahnya.
Seharusnya:
Fenomena → masalah → gap → variabel → judul. - Menganggap semua fenomena sebagai masalah penelitian
Tidak semua hal yang menarik otomatis menjadi masalah penelitian.
Masalah penelitian harus:
• jelas;
• relevan;
• memiliki nilai ilmiah;
• dapat diteliti;
• memiliki data;
• realistis dilakukan. - Identifikasi masalah terlalu banyak
Misalnya mahasiswa menuliskan 15–20 masalah tetapi tidak menentukan fokus.
Solusinya:
Identifikasi boleh luas, tetapi penelitian harus dibatasi. - Batasan masalah terlalu luas
Contoh:
Penelitian ini membahas penggunaan teknologi dalam pendidikan.
Ini masih sangat luas.
Lebih baik:
Penelitian ini dibatasi pada pengaruh penggunaan video pembelajaran terhadap hasil belajar mahasiswa semester V Program Studi PAI. - Research gap hanya mengatakan “belum pernah diteliti”
Pernyataan:
“Belum ada yang meneliti topik ini.”
belum cukup kuat jika tidak didukung kajian literatur.
Lebih baik menunjukkan:
penelitian apa yang sudah ada, hasilnya bagaimana, keterbatasannya apa, dan bagian mana yang belum terjawab.
Q. Latihan Mahasiswa
Latihan 1 — Identifikasi Masalah
Pilih satu fenomena pendidikan.
Contoh:
Penggunaan KA dalam pembelajaran semakin meningkat.
Tuliskan:
- Fenomena yang ditemukan.
- Kondisi ideal.
- Kondisi nyata.
- Kesenjangan.
- Minimal 5 masalah yang dapat diidentifikasi.
Latihan 2 — Membatasi Masalah
Dari 5 masalah yang telah ditemukan, pilih satu masalah utama.
Tentukan:
• variabel X;
• variabel Y;
• subjek;
• lokasi;
• waktu;
• konteks penelitian.
Kemudian buat satu paragraf batasan masalah.
Latihan 3 — Mencari Research Gap
Cari minimal 5 artikel jurnal yang relevan dengan topik yang dipilih.
Buat tabel:
| No. | Peneliti/Tahun | Variabel | Subjek | Metode | Hasil | Gap/Keterbatasan |
| 1 | ||||||
| 2 | ||||||
| 3 | ||||||
| 4 | ||||||
| 5 |
Kemudian jawab:
Apa yang belum terjawab dari penelitian-penelitian tersebut?
V. Tugas Individu
Mahasiswa diminta menyusun identifikasi masalah penelitian kuantitatif dengan ketentuan:
Bagian 1 — Fenomena
1 paragraf.
Bagian 2 — Identifikasi Masalah
Minimal 5 masalah.
Bagian 3 — Research Gap
Berdasarkan minimal 5 penelitian terdahulu.
Bagian 4 — Batasan Masalah
1–2 paragraf.
Bagian 5 — Calon Judul
Satu judul penelitian kuantitatif.
Bagian 6 — Rumusan Masalah
Minimal 1 rumusan masalah.
R. Aktivitas Diskusi Kelas
Dosen dapat membagi mahasiswa menjadi beberapa kelompok.
Setiap kelompok mendapatkan kasus:
“Penggunaan media sosial yang tinggi di kalangan mahasiswa belum tentu diikuti dengan meningkatnya prestasi akademik.”
Kemudian mahasiswa diminta menemukan:
- Apa fenomenanya?
- Apa masalahnya?
- Apa yang harus diidentifikasi?
- Apa yang perlu dibatasi?
- Apa kemungkinan research gap?
- Variabel apa yang dapat diteliti?
- Apa calon judul penelitian kuantitatifnya?
S. Kesimpulan
Identifikasi masalah merupakan tahap penting dalam penelitian kuantitatif karena menentukan arah penelitian.
Empat konsep utama yang perlu dipahami mahasiswa adalah:
- Sumber Masalah
Dari mana masalah ditemukan?
Fenomena, observasi, wawancara, pengalaman, teori, penelitian terdahulu, dan kebijakan. - Identifikasi Masalah
Apa saja persoalan yang muncul dari fenomena tersebut? - Batasan Masalah
Bagian mana yang benar-benar akan diteliti? - Research Gap
Apa yang masih belum terjawab atau belum konsisten dalam penelitian terdahulu?
Dengan demikian, alur berpikir mahasiswa sebaiknya:
FENOMENA → MASALAH → IDENTIFIKASI → KAJIAN TERDAHULU → RESEARCH GAP → BATASAN → RUMUSAN MASALAH → PENELITIAN
Intinya: penelitian kuantitatif yang baik bukan sekadar memiliki judul yang menarik, tetapi berangkat dari masalah yang jelas, fokus yang terukur, dan research gap yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.