Banyak pelaku UMKM merasa bisnisnya berjalan baik karena penjualan terus terjadi. Namun, penjualan yang tinggi belum tentu berarti kondisi keuangan bisnis benar-benar sehat.
Salah satu persoalan yang sering terjadi adalah arus kas yang tidak terkelola dengan baik. Uang masuk memang ada, tetapi pada saat tertentu pelaku usaha kesulitan membayar supplier, biaya operasional, gaji, sewa, atau kebutuhan bisnis lainnya.
Karena itu, memahami dan mengelola arus kas UMKM menjadi salah satu keterampilan penting bagi setiap pemilik usaha.
Apa Itu Arus Kas UMKM?
Arus kas atau cash flow adalah pergerakan uang yang masuk dan keluar dari sebuah bisnis dalam periode tertentu.
Secara sederhana:
Arus kas = Uang masuk − Uang keluar
Uang masuk dapat berasal dari penjualan produk, pembayaran pelanggan, modal tambahan, investasi, atau sumber pendapatan lainnya.
Sementara itu, uang keluar dapat berupa pembelian bahan baku, pembayaran supplier, biaya listrik, internet, transportasi, gaji, sewa tempat, biaya promosi, hingga cicilan usaha.
Dengan mencatat keduanya secara rutin, pemilik UMKM dapat mengetahui kondisi keuangan bisnis secara lebih nyata.
Mengapa Arus Kas Penting bagi UMKM?
Arus kas memiliki hubungan langsung dengan kemampuan bisnis menjalankan aktivitas sehari-hari.
Bisnis yang memperoleh keuntungan secara teori tetap dapat mengalami kesulitan apabila uang tunai yang tersedia tidak mencukupi kebutuhan operasional.
Contohnya, sebuah UMKM memiliki penjualan Rp20 juta dalam satu bulan. Namun, sebagian besar transaksi dilakukan secara kredit dan baru dibayar pelanggan 30 hari kemudian.
Pada saat yang sama, supplier meminta pembayaran dalam waktu tujuh hari.
Di atas kertas penjualan terlihat bagus, tetapi bisnis dapat mengalami masalah likuiditas karena uang belum tersedia ketika pembayaran harus dilakukan.
Inilah alasan mengapa omzet, laba, dan arus kas merupakan hal yang berbeda.
Perbedaan Omzet, Laba, dan Arus Kas
Ketiga istilah ini sering dianggap sama, padahal memiliki pengertian berbeda.
Omzet
Omzet adalah total nilai penjualan dalam periode tertentu sebelum dikurangi biaya.
Misalnya sebuah toko memperoleh penjualan Rp30 juta dalam satu bulan. Maka omzetnya adalah Rp30 juta.
Laba
Laba merupakan selisih antara pendapatan dan biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan usaha.
Jika pendapatan Rp30 juta dan total biaya Rp24 juta, maka secara sederhana laba yang diperoleh adalah Rp6 juta.
Arus Kas
Arus kas melihat pergerakan uang yang benar-benar masuk dan keluar.
Karena waktu penerimaan dan pembayaran dapat berbeda, laba tidak selalu sama dengan uang tunai yang tersedia.
Memahami perbedaan ketiganya membantu pelaku UMKM mengambil keputusan berdasarkan kondisi bisnis yang sebenarnya.
Jenis Arus Kas dalam Bisnis
Untuk mempermudah pengelolaan, arus kas dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian.
- Arus Kas Operasional
Arus kas operasional berkaitan dengan aktivitas utama bisnis.
Contohnya:
• penerimaan pembayaran pelanggan;
• pembelian bahan baku;
• pembayaran supplier;
• pembayaran gaji;
• biaya listrik dan internet;
• biaya transportasi;
• biaya pemasaran;
• biaya operasional lainnya.
Bagian ini menjadi perhatian utama karena berhubungan langsung dengan kegiatan sehari-hari. - Arus Kas Investasi
Arus kas investasi berkaitan dengan pembelian atau penjualan aset yang digunakan dalam bisnis.
Contohnya membeli komputer, mesin produksi, kendaraan operasional, peralatan usaha, atau perangkat pendukung lainnya.
Investasi memang menyebabkan uang keluar, tetapi aset tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat bagi bisnis dalam jangka lebih panjang. - Arus Kas Pendanaan
Arus kas pendanaan berkaitan dengan modal dan pembiayaan usaha.
Misalnya tambahan modal dari pemilik, penerimaan pinjaman usaha, pembayaran cicilan, atau transaksi pendanaan lainnya.
Dengan memisahkan ketiga jenis tersebut, pemilik UMKM dapat lebih mudah memahami dari mana uang berasal dan untuk apa uang digunakan.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Pelaku UMKM
Pengelolaan arus kas sering bermasalah bukan karena bisnis tidak menghasilkan uang, tetapi karena kebiasaan pengelolaan yang kurang disiplin.
Mencampur Uang Pribadi dan Uang Usaha
Ini merupakan salah satu masalah yang banyak terjadi pada bisnis kecil.
Uang hasil penjualan digunakan untuk kebutuhan keluarga, sementara kebutuhan usaha menggunakan uang pribadi tanpa pencatatan yang jelas.
Akibatnya, pemilik usaha kesulitan mengetahui berapa sebenarnya uang yang dimiliki bisnis.
Solusinya adalah memisahkan rekening atau tempat penyimpanan uang bisnis dengan uang pribadi.
Tidak Mencatat Transaksi Kecil
Pengeluaran kecil sering dianggap tidak penting.
Padahal, jika terjadi setiap hari, jumlahnya dapat menjadi besar.
Biaya parkir, ongkos kirim, pembelian kemasan, pulsa, konsumsi, dan biaya kecil lainnya sebaiknya tetap dicatat.
Terlalu Cepat Mengambil Keuntungan
Ketika memperoleh pemasukan, sebagian pelaku usaha langsung mengambil seluruh kelebihan uang untuk kebutuhan pribadi.
Padahal, bisnis membutuhkan modal kerja untuk membeli stok dan menjalankan operasional berikutnya.
Karena itu, pengambilan uang dari bisnis sebaiknya dilakukan secara terencana.
Memberikan Piutang Tanpa Perhitungan
Penjualan secara kredit dapat membantu meningkatkan penjualan, tetapi juga dapat mengganggu arus kas jika pembayaran pelanggan terlambat.
Sebelum memberikan fasilitas pembayaran tempo, pelaku UMKM perlu mempertimbangkan kemampuan pelanggan dan risiko keterlambatan pembayaran.
Cara Sederhana Mengelola Arus Kas UMKM
Pengelolaan arus kas tidak harus menggunakan sistem akuntansi yang rumit.
Pelaku usaha dapat memulainya dengan beberapa langkah sederhana.
Pisahkan Keuangan Pribadi dan Bisnis
Buat rekening atau dompet digital khusus untuk bisnis.
Dengan demikian, transaksi usaha lebih mudah dipantau.
Catat Semua Pemasukan
Setiap pembayaran pelanggan sebaiknya dicatat.
Minimal mencatat:
tanggal;
nama pelanggan;
produk atau jasa;
jumlah transaksi;
metode pembayaran;
status pembayaran.
Catat Semua Pengeluaran
Pengeluaran sekecil apa pun perlu dicatat.
Dengan catatan tersebut, pemilik usaha dapat mengetahui biaya apa yang paling banyak menyerap uang.
Buat Proyeksi Arus Kas
Jangan hanya mencatat apa yang sudah terjadi.
Pelaku UMKM juga perlu memperkirakan pemasukan dan pengeluaran pada beberapa minggu atau bulan berikutnya.
Contohnya:
| Perkiraan | Jumlah |
| Penjualan | Rp15.000.000 |
| Pembelian bahan | Rp5.000.000 |
| Operasional | Rp3.000.000 |
| Promosi | Rp1.000.000 |
| Cicilan | Rp1.500.000 |
| Perkiraan saldo bersih | Rp4.500.000 |
Angka tersebut hanya contoh sederhana. Kondisi setiap bisnis tentu berbeda.
Siapkan Dana Cadangan
Bisnis dapat menghadapi kondisi tidak terduga, seperti penjualan menurun, peralatan rusak, supplier menaikkan harga, atau pelanggan terlambat membayar.
Dana cadangan dapat membantu bisnis tetap berjalan ketika menghadapi situasi tersebut.
Manfaat Teknologi untuk Mengelola Arus Kas
Perkembangan teknologi membuat pengelolaan keuangan UMKM menjadi semakin mudah.
Pelaku usaha dapat menggunakan spreadsheet, aplikasi pencatatan keuangan, aplikasi kasir, maupun platform akuntansi digital.
Keuntungan menggunakan teknologi antara lain:
• transaksi lebih mudah dicatat;
• laporan dapat dibuat lebih cepat;
• data tersimpan lebih rapi;
• kesalahan pencatatan dapat dikurangi;
• pemilik usaha dapat memantau kondisi keuangan;
• data dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Bagi UMKM yang mulai berkembang, sistem digital dapat membantu mengurangi ketergantungan pada pencatatan manual.
Kecerdasan Artifisial untuk Membantu Pengelolaan Keuangan
Kecerdasan Artifisial (KA) juga dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam pengelolaan bisnis.
Misalnya, pelaku UMKM dapat menggunakan KA untuk membantu membuat format pencatatan, mengelompokkan jenis pengeluaran, membuat simulasi sederhana, atau membantu menganalisis pola transaksi.
Namun, hasil dari sistem KA tetap perlu diperiksa oleh pemilik usaha.
Data keuangan merupakan informasi penting sehingga keamanan, privasi, dan ketepatan data harus menjadi perhatian.
Contoh Sederhana Pengelolaan Arus Kas
Bayangkan sebuah usaha makanan rumahan memperoleh penjualan Rp12 juta dalam satu bulan.
Pengeluarannya:
• bahan baku: Rp4 juta;
• kemasan: Rp1 juta;
• listrik dan gas: Rp800 ribu;
• pemasaran: Rp700 ribu;
• transportasi: Rp500 ribu;
• biaya lain-lain: Rp500 ribu.
Total pengeluaran sebesar Rp7,5 juta.
Secara sederhana terdapat selisih Rp4,5 juta.
Namun, pemilik usaha tidak seharusnya langsung menganggap seluruh selisih tersebut sebagai uang yang bebas digunakan.
Masih perlu diperhatikan apakah ada utang usaha, piutang pelanggan, kebutuhan pembelian stok berikutnya, pajak, investasi peralatan, dan kebutuhan modal kerja.
Di sinilah pentingnya melihat arus kas secara menyeluruh.
Tips Menjaga Arus Kas Tetap Sehat
Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu UMKM menjaga kondisi kas.
Pertama, biasakan mencatat transaksi setiap hari.
Kedua, pisahkan rekening bisnis dan pribadi.
Ketiga, kendalikan pengeluaran yang tidak memberikan manfaat jelas bagi bisnis.
Keempat, lakukan evaluasi stok secara berkala agar modal tidak terlalu banyak tertahan dalam persediaan.
Kelima, buat aturan pembayaran yang jelas untuk pelanggan yang membeli secara kredit.
Keenam, lakukan pengecekan arus kas secara rutin.
Ketujuh, siapkan dana darurat bisnis.
Kedelapan, gunakan teknologi untuk membuat pencatatan lebih mudah dan konsisten.
Penutup
Arus kas UMKM merupakan salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan sejak bisnis masih kecil.
Penjualan yang tinggi belum tentu menjamin bisnis memiliki uang tunai yang cukup. Sebaliknya, pencatatan dan pengelolaan arus kas yang baik dapat membantu pemilik usaha memahami kondisi keuangan dan merencanakan kebutuhan bisnis dengan lebih terukur.
Tidak perlu menunggu bisnis menjadi besar untuk mulai mencatat keuangan.
Mulailah dari hal sederhana: catat uang masuk, catat uang keluar, pisahkan uang pribadi dan usaha, kemudian evaluasi secara rutin.
Kebiasaan kecil tersebut dapat menjadi fondasi penting bagi UMKM untuk tumbuh secara lebih sehat, terencana, dan berkelanjutan.
| Perkiraan | Jumlah |
| Penjualan | Rp15.000.000 |
| Pembelian bahan | Rp5.000.000 |
| Operasional | Rp3.000.000 |
| Promosi | Rp1.000.000 |
| Cicilan | Rp1.500.000 |
| Perkiraan saldo bersih | Rp4.500.000 |