Ada orang yang sangat pintar, tetapi sulit menghargai orang lain.
Ada pula yang memiliki banyak pengetahuan, tetapi mudah meremehkan orang yang berbeda pendapat dengannya.
Di sisi lain, kita sering menemukan orang yang ilmunya mungkin belum banyak, tetapi sikapnya kepada guru, orang tua, dan sesama begitu baik.
Pertanyaannya, apa sebenarnya tujuan belajar dalam Islam?
Apakah sekadar agar kita pintar?
Apakah agar mendapatkan gelar?
Apakah agar mendapatkan pekerjaan yang baik?
Semua itu tentu bisa menjadi bagian dari manfaat ilmu. Namun, dalam Islam, ilmu memiliki kedudukan yang jauh lebih dalam. Ilmu seharusnya membawa seseorang semakin mengenal Allah, memperbaiki dirinya, dan memberikan manfaat kepada orang lain.
Karena itu, pembicaraan tentang ilmu dalam Islam tidak bisa dipisahkan dari adab.
Ilmu tanpa adab dapat membuat seseorang merasa lebih tinggi dari orang lain. Sebaliknya, adab yang baik membuat ilmu menjadi sesuatu yang membawa keberkahan.
Ilmu Bukan Sekadar Banyak Mengetahui
Kita hidup pada masa ketika informasi sangat mudah diperoleh.
Dahulu, seseorang harus pergi ke perpustakaan untuk mencari buku. Sekarang, cukup membuka ponsel, berbagai macam informasi sudah tersedia.
Video kajian ada di mana-mana.
Artikel mudah ditemukan.
Buku digital bisa dibaca kapan saja.
Bahkan dengan bantuan teknologi dan Kecerdasan Artifisial (KA), seseorang dapat memperoleh penjelasan mengenai berbagai topik hanya dalam hitungan detik.
Tetapi ada satu persoalan yang semakin penting:
Apakah banyak informasi berarti banyak ilmu?
Belum tentu.
Mengetahui sesuatu berbeda dengan memahami. Memahami juga belum tentu berarti mengamalkannya.
Seseorang bisa mengetahui bahwa berkata jujur itu baik, tetapi tetap memilih berbohong ketika berada dalam situasi tertentu.
Seseorang bisa mengetahui pentingnya sedekah, tetapi belum tentu ringan tangan ketika melihat orang yang membutuhkan.
Karena itu, ilmu dalam Islam tidak berhenti pada apa yang tersimpan di kepala.
Ilmu seharusnya terlihat dalam sikap, perkataan, dan perbuatan.
Islam Memberikan Kedudukan Tinggi kepada Orang Berilmu
Islam memberikan perhatian yang besar terhadap ilmu.
Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11 bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.
Ayat tersebut menunjukkan bahwa ilmu memiliki kedudukan yang mulia.
Namun, kemuliaan ilmu bukan alasan bagi seseorang untuk merasa lebih tinggi.
Justru semakin berilmu seseorang, seharusnya semakin tumbuh kesadaran bahwa dirinya masih memiliki banyak keterbatasan.
Semakin banyak seseorang belajar, biasanya semakin banyak pula hal yang ia sadari belum diketahuinya.
Di situlah kerendahan hati menjadi penting.
Mengapa Adab Harus Didahulukan?
Ada sebuah ungkapan yang sangat dikenal dalam tradisi pendidikan Islam:
“Adab sebelum ilmu.”
Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa ilmu membutuhkan wadah yang baik.
Bayangkan seseorang memiliki kemampuan berbicara yang luar biasa, tetapi tidak memiliki adab.
Ia dapat menggunakan kepandaiannya untuk mempermalukan orang lain.
Seseorang yang pandai berdebat tetapi tidak memiliki adab dapat menjadikan ilmu sebagai alat untuk memenangkan pertengkaran.
Sementara orang yang memiliki ilmu dan adab akan menggunakan pengetahuannya untuk mencari kebenaran, bukan sekadar mencari kemenangan.
Karena itu, belajar dalam Islam bukan hanya tentang menambah pengetahuan, tetapi juga tentang membentuk diri.
Adab Pertama: Meluruskan Niat
Sebelum belajar, ada baiknya seseorang bertanya kepada dirinya sendiri:
“Untuk apa saya belajar?”
Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi sangat penting.
Seseorang bisa belajar karena ingin memperoleh pekerjaan.
Ada yang ingin mendapatkan gelar.
Ada yang ingin meningkatkan kemampuan.
Ada yang ingin membahagiakan orang tua.
Ada pula yang ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Semua itu bisa menjadi motivasi manusiawi.
Namun, seorang Muslim perlu mengingat bahwa mencari ilmu juga dapat menjadi bagian dari ibadah apabila diniatkan dengan benar.
Belajar agar dapat memberikan manfaat.
Belajar agar dapat menjalankan amanah dengan lebih baik.
Belajar agar tidak mudah melakukan kesalahan.
Belajar agar dapat membantu orang lain.
Niat yang baik membuat proses belajar memiliki arah yang lebih bermakna.
Adab Kedua: Menghormati Guru
Guru tidak selalu sempurna.
Guru juga manusia yang bisa melakukan kesalahan.
Namun, menghormati guru tetap merupakan bagian penting dalam tradisi pendidikan Islam.
Menghormati guru bukan berarti menganggap guru tidak pernah salah.
Menghormati guru berarti menghargai ilmu, waktu, usaha, dan proses yang diberikan oleh seorang pendidik.
Di zaman sekarang, bentuk penghormatan tersebut juga mengalami perubahan.
Ketika mengikuti kelas daring, misalnya, adab dapat ditunjukkan dengan hadir tepat waktu, memperhatikan penjelasan, tidak sengaja mengganggu kelas, dan mengajukan pertanyaan dengan bahasa yang baik.
Begitu pula di media sosial.
Jika tidak setuju dengan pendapat seorang guru atau ustaz, kita tetap dapat menyampaikan perbedaan pendapat tanpa menghina. Berbeda pendapat tidak harus kehilangan adab.
Adab Ketiga: Rendah Hati Ketika Memiliki Ilmu
Ini mungkin salah satu bagian tersulit dalam perjalanan mencari ilmu.
Ketika seseorang mulai memahami sesuatu, ada godaan untuk merasa lebih tahu dibandingkan orang lain.
Apalagi ketika pengetahuan tersebut membuat seseorang mendapatkan pujian.
Di sinilah ilmu seharusnya mengajarkan kerendahan hati.
Orang yang benar-benar memahami luasnya ilmu biasanya menyadari bahwa pengetahuannya sangat terbatas.
Kita hanya mengetahui sebagian kecil dari apa yang ada di dunia.
Karena itu, kalimat:
“Saya belum tahu.”
seharusnya tidak menjadi sesuatu yang memalukan.
Justru keberanian mengakui ketidaktahuan merupakan tanda kejujuran intelektual.
Daripada memberikan jawaban yang tidak kita ketahui, lebih baik mengatakan:
“Saya belum mengetahui jawabannya. Saya akan mencoba mempelajarinya.”
Sikap seperti ini jauh lebih sehat dalam proses belajar.
Adab Keempat: Tidak Malu Bertanya
Banyak orang sebenarnya ingin bertanya, tetapi takut dianggap bodoh.
Padahal, tidak mengetahui sesuatu bukanlah aib.
Yang menjadi masalah adalah tidak tahu tetapi tidak mau belajar.
Ketika belum memahami suatu materi, bertanyalah.
Ketika menemukan istilah yang belum dimengerti, carilah penjelasannya.
Ketika membaca sesuatu yang meragukan, jangan terburu-buru menyebarkannya.
Dalam proses mencari ilmu, pertanyaan justru dapat membuka pintu pemahaman.
Namun, bertanya juga memiliki adab.
Pertanyaan sebaiknya disampaikan dengan tujuan mendapatkan pemahaman, bukan untuk menjebak, mempermalukan, atau mencari kesalahan orang lain.
Adab Kelima: Memeriksa Informasi Sebelum Menyebarkannya
Ini menjadi semakin penting di era media sosial.
Satu pesan dapat diteruskan kepada puluhan bahkan ratusan orang hanya dalam beberapa detik.
Masalahnya, tidak semua informasi benar.
Termasuk informasi yang menggunakan label agama.
Kadang kita menemukan kutipan yang disebut sebagai hadis, padahal sumbernya tidak jelas.
Ada pula potongan video yang dipisahkan dari konteksnya sehingga maknanya berubah.
Karena itu, seorang pencari ilmu perlu memiliki kebiasaan tabayyun atau memeriksa informasi.
Sebelum membagikan sebuah informasi, tanyakan:
• Dari mana sumbernya?
• Siapa yang menyampaikannya?
• Apakah ada rujukan yang jelas?
• Apakah konteksnya lengkap?
• Apakah informasi tersebut benar?
Menahan diri untuk tidak langsung menyebarkan sesuatu juga merupakan bagian dari adab.
Adab Keenam: Menghargai Perbedaan Pendapat
Dalam dunia ilmu, perbedaan pendapat adalah sesuatu yang tidak selalu dapat dihindari.
Para ulama sepanjang sejarah memiliki perbedaan pandangan dalam berbagai persoalan.
Karena itu, ketika menemukan seseorang yang memiliki pendapat berbeda, kita tidak harus langsung menganggapnya salah secara keseluruhan.
Belajar ilmu juga berarti belajar memahami alasan di balik sebuah pendapat.
Ada perbedaan antara:
“Saya tidak sependapat dengan pendapat tersebut.”
dan:
“Orang yang memiliki pendapat tersebut pasti bodoh.”
Kalimat pertama menunjukkan perbedaan pemikiran.
Kalimat kedua sudah menyerang pribadi.
Di sinilah adab diperlukan.
Kita boleh berbeda.
Kita boleh mengkritik.
Kita boleh berdiskusi.
Tetapi tetap menjaga lisan dan menghormati manusia yang sedang kita ajak berdiskusi.
Adab Ketujuh: Mengamalkan Ilmu
Ilmu yang hanya berhenti dalam catatan belum memberikan manfaat maksimal.
Misalnya seseorang belajar tentang pentingnya menjaga lisan.
Ia memahami dalilnya.
Ia menghafal penjelasannya.
Ia bahkan mampu menjelaskan kepada orang lain.
Tetapi jika setiap hari ia masih senang mencela dan membicarakan keburukan orang lain, ada sesuatu yang belum selesai dalam proses belajarnya.
Ilmu seharusnya perlahan-lahan mengubah perilaku.
Tidak harus langsung sempurna.
Yang penting ada usaha.
Setelah belajar tentang sabar, kita mencoba lebih sabar.
Setelah memahami pentingnya amanah, kita berusaha lebih bertanggung jawab.
Setelah mengetahui larangan ghibah, kita berusaha menjaga pembicaraan.
Di situlah ilmu mulai terasa dalam kehidupan nyata.
Adab Kedelapan: Bersabar dalam Proses Belajar
Tidak semua ilmu bisa dikuasai dalam waktu singkat.
Ada keterampilan yang membutuhkan berbulan-bulan.
Ada yang membutuhkan bertahun-tahun.
Bahkan seorang mahasiswa yang sedang menyelesaikan pendidikan tinggi pun masih harus terus belajar setelah mendapatkan gelar.
Karena itu, jangan terlalu cepat kecewa ketika belum mampu.
Belajar memang sering melewati fase yang membosankan.
Ada hari ketika kita bersemangat.
Ada hari ketika rasanya tidak memahami apa-apa.
Ada saat ketika kita ingin berhenti.
Di sinilah kesabaran diperlukan.
Kemampuan yang baik biasanya lahir dari proses panjang yang dilakukan sedikit demi sedikit.
Adab Kesembilan: Memilih Sumber Ilmu dengan Bijak
Tidak semua sumber belajar memiliki kualitas yang sama.
Di internet, siapa pun dapat berbicara.
Seseorang dapat membuat video dengan jutaan penonton meskipun isi videonya belum tentu benar.
Karena itu, jumlah pengikut tidak otomatis menunjukkan kualitas ilmu.
Begitu pula jumlah tayangan bukan ukuran kebenaran.
Dalam mencari ilmu agama, kita perlu lebih berhati-hati dalam memilih sumber.
Perhatikan latar belakang orang yang menyampaikan, rujukan yang digunakan, konteks pembahasannya, serta apakah penjelasan tersebut dapat dipertanggungjawabkan.
Belajar dari internet boleh.
Bahkan sangat membantu.
Tetapi jangan kehilangan sikap kritis.
Adab Kesepuluh: Menggunakan Ilmu untuk Memberi Manfaat
Pada akhirnya, ilmu yang baik seharusnya menghasilkan manfaat.
Seorang guru menggunakan ilmunya untuk mendidik.
Seorang dokter menggunakan ilmunya untuk membantu pasien.
Seorang pengusaha menggunakan pengetahuannya untuk membangun usaha dan membuka peluang bagi orang lain.
Seorang mahasiswa menggunakan ilmunya untuk menyelesaikan persoalan.
Seorang pengguna teknologi menggunakan kemampuannya untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Tidak semua orang harus menjadi ulama.
Tidak semua orang harus menjadi akademisi.
Setiap orang memiliki jalan pengabdian masing-masing.
Yang penting adalah ilmu yang kita miliki tidak hanya berhenti pada diri sendiri.
Bagaimana Menerapkan Adab Menuntut Ilmu di Era Digital?
Menuntut ilmu sekarang jauh lebih mudah dibandingkan masa lalu.
Namun, kemudahan itu juga membawa tantangan.
Kita bisa belajar dari YouTube, membaca artikel, mengikuti webinar, menggunakan buku digital, berdiskusi melalui komunitas, dan memanfaatkan teknologi.
Agar proses tersebut tetap memiliki adab, beberapa kebiasaan sederhana dapat dilakukan.
Jangan Mudah Percaya
Informasi yang terlihat meyakinkan belum tentu benar.
Periksa sumbernya.
Jangan Asal Membagikan
Jika belum yakin, lebih baik berhenti sejenak daripada ikut menyebarkan informasi yang salah.
Jangan Menganggap Semua yang Viral Itu Benar
Popularitas bukan ukuran kebenaran.
Gunakan KA sebagai Alat Bantu, Bukan Pengganti Guru dan Ulama
Kecerdasan Artifisial dapat membantu menjelaskan istilah, membuat rangkuman, atau memberikan sudut pandang awal.
Tetapi untuk persoalan agama yang membutuhkan ketepatan dalil dan konteks, sumber keilmuan yang terpercaya tetap diperlukan.
Tetap Belajar dari Manusia
Teknologi dapat membantu kita menemukan informasi.
Namun, pendidikan juga membutuhkan keteladanan, dialog, pengalaman, dan hubungan antarmanusia.
Ketika Ilmu Membuat Kita Semakin Rendah Hati
Mungkin ini salah satu tanda yang paling sederhana.
Jika setelah belajar seseorang menjadi semakin suka merendahkan orang lain, ada sesuatu yang perlu direnungkan.
Sebaliknya, jika ilmu membuat seseorang lebih hati-hati berbicara, lebih mudah mengakui kesalahan, lebih menghargai orang lain, dan lebih banyak memberikan manfaat, maka ilmu tersebut mulai memberikan pengaruh yang baik.
Ilmu seharusnya tidak membuat seseorang merasa:
“Saya lebih hebat daripada mereka.”
Tetapi justru:
“Ternyata masih banyak yang belum saya ketahui.”
Kesadaran seperti itulah yang membuat seseorang terus belajar.
Menuntut Ilmu adalah Perjalanan Seumur Hidup
Pendidikan tidak berhenti ketika seseorang lulus sekolah.
Belajar juga tidak berhenti ketika mendapatkan ijazah.
Kehidupan terus memberikan pelajaran.
Orang tua belajar dari pengalaman membesarkan anak.
Guru belajar dari murid-muridnya.
Pengusaha belajar dari pelanggan.
Mahasiswa belajar dari buku dan pengalaman.
Seorang Muslim belajar dari Al-Qur’an, sunnah, para ulama, pengalaman kehidupan, dan berbagai peristiwa yang ditemuinya.
Karena itu, menjadi pembelajar sepanjang hayat bukan sekadar slogan.
Ia merupakan sikap hidup.
Selama masih hidup, selalu ada sesuatu yang dapat dipelajari.
Penutup
Menuntut ilmu dalam Islam bukan hanya tentang seberapa banyak buku yang telah kita baca, berapa banyak gelar yang kita miliki, atau seberapa banyak orang yang mengakui kepandaian kita.
Ada sesuatu yang jauh lebih penting: apa yang ilmu itu lakukan terhadap diri kita.
Apakah kita menjadi lebih rendah hati?
Apakah kita menjadi lebih sabar?
Apakah kita semakin berhati-hati dalam berbicara?
Apakah kita semakin mampu membedakan informasi yang benar dan salah?
Apakah ilmu membuat kita lebih dekat kepada Allah?
Dan yang tidak kalah penting:
Apakah ilmu yang kita miliki memberikan manfaat bagi orang lain?
Karena ilmu yang baik bukan hanya membuat seseorang lebih tahu.
Ilmu yang baik seharusnya membuat seseorang menjadi lebih baik.
Maka, ketika kita membuka buku, mengikuti kajian, masuk kelas, membaca artikel, berdiskusi, atau bahkan belajar melalui teknologi, jangan lupa membawa satu hal yang tidak kalah penting dari buku dan perangkat yang kita gunakan:
adab.
Sebab ilmu dapat mengangkat derajat seseorang, tetapi adab membantu memastikan bahwa ilmu tersebut digunakan di jalan yang baik.
