Kediri, 1 Juli 2025 – Semangat peserta Diklat Pengajar Koding dan Kecerdasan Artifisial (KA) Fase C terus menyala di hari kedua pelaksanaan, yang digelar di SMP Negeri 1 Kediri. Diklat yang diperuntukkan bagi para guru SD se-Kota Kediri ini akan berlangsung selama empat hari, dari tanggal 30 Juni hingga 4 Juli 2025, sebagai upaya membekali guru dengan literasi digital dan kecakapan abad ke-21.
Sebanyak 45 guru dari berbagai SD negeri dan swasta aktif mengikuti sesi hari kedua yang mengupas dua modul penting:
- Modul 2: Berpikir Komputasional sebagai Dasar Koding dan KA
- Modul 3: Konsep Dasar Kecerdasan Artifisial
Peserta tetap dibagi menjadi 4 kelompok diskusi untuk memfasilitasi pendekatan pembelajaran mendalam. Kelas B masih didampingi oleh dua fasilitator dari LPD Roudlotut Tholibin Tulungagung, yakni Bapak Khotibul Umam dan Ibu Meisanti.
Berpikir Komputasional: Pondasi dari Koding dan Pemecahan Masalah
Modul 2 menekankan pentingnya berpikir komputasional sebagai landasan utama dalam pengajaran koding. Para guru dikenalkan dengan empat komponen utama: dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma.
Melalui praktik plugged dan unplugged, peserta diajak untuk menyusun strategi pembelajaran yang bisa diterapkan di lingkungan SD yang beragam — bahkan untuk sekolah yang minim perangkat digital.
Modul 3: Mengenalkan AI dengan Cara Sederhana dan Menarik
Pada sesi siang, peserta mulai memahami dunia Kecerdasan Artifisial. Modul 3 memberikan pemahaman awal tentang AI, bagaimana cara kerjanya, serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari, seperti fitur pencarian otomatis hingga asisten suara.
Yang menarik, fasilitator menyampaikan bahwa mengenalkan konsep AI kepada anak SD bisa dilakukan melalui cerita, permainan, hingga perbandingan cara berpikir manusia dan mesin. Materi ini sangat relevan dengan kondisi anak usia sekolah dasar yang sedang berada dalam tahap operasional konkret menurut teori perkembangan Piaget.
“Ternyata AI tidak harus rumit. Anak-anak bisa memahami konsep dasarnya lewat cerita dan visual,” ujar salah satu peserta.

Menjadi Guru Siap Digital
Dengan metode interaktif dan berbasis pengalaman, para guru dibimbing tidak hanya memahami teori, tetapi juga merancang rencana pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa SD. Pendekatan inklusif ini menjadi kunci keberhasilan implementasi pembelajaran koding dan AI di sekolah dasar.
“Kami ingin guru-guru SD punya pondasi kuat dalam memahami dunia digital, agar bisa menyiapkan generasi yang tidak hanya cakap teknologi, tapi juga beretika dan kreatif,” jelas fasilitator Khotibul Umam.
Diklat pada tahap in 1 ini akan terus berlanjut hingga 4 Juli 2025 mendatang dengan modul-modul lanjutan yang semakin memperdalam keterampilan berpikir kritis, produksi konten digital, serta strategi mengintegrasikan AI dalam pembelajaran dasar.