Bersedekah lalu Allah balas sepuluh kali lipat adalah janji-Nya. Namun, anugerah yang lebih besar dari itu adalah ketika hati masih diberi kelembutan untuk memberi. Karena tidak semua orang mampu, meski mereka berlimpah harta.
Banyak manusia terpesona pada hasil, padahal hakikat mulia ada pada amal memberi. Saat tangan ringan bersedekah, itu tanda hati masih hidup, jiwa belum kikir, dan iman masih bergetar oleh seruan kebaikan.
Rezeki sejati bukan sekadar apa yang masuk ke genggaman, tapi apa yang kita relakan untuk dilepaskan di jalan Allah. Adapun balasan di dunia, hakikatnya hanyalah ujian lanjutan:
Apakah kita akan tetap rendah hati atau justru sombong?
Apakah kita bertambah dermawan atau malah pelit?
Allah Ta’ala berfirman:
“Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 261)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan berkurang harta karena sedekah. Dan Allah tidak menambah kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan. Serta tidaklah seseorang merendah diri karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.”
(HR. Muslim)
Ketahuilah, uang sepuluh ribu dari tangan seorang kaya tidak sama nilainya dengan sepuluh ribu dari tangan seorang miskin di sisi Allah. Sebab ukuran-Nya bukan pada besar kecilnya angka, melainkan pada keikhlasan dan ketulusan hati yang beramal.
