Tradisi kupatan Durenan Trenggalek dengan gunungan ketupatTradisi kupatan Durenan Trenggalek dengan gunungan ketupat

Setelah perayaan Idul Fitri, masyarakat Jawa—khususnya di wilayah Trenggalek dan Tulungagung—memiliki tradisi unik yang dikenal sebagai kupatan atau lebaran ketupat. Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada hari ke-7 atau ke-8 bulan Syawal, setelah umat Islam menunaikan puasa sunnah enam hari.
Kupatan bukan sekadar tradisi makan ketupat, melainkan sebuah warisan budaya yang mengandung nilai religius, sosial, dan filosofi mendalam tentang maaf, kebersamaan, dan syukur.
Sejarah Tradisi Kupatan di Trenggalek
Berawal dari Ulama dan Pesantren
Tradisi kupatan di Trenggalek, khususnya di Kecamatan Durenan, memiliki sejarah panjang hingga ratusan tahun. Tradisi ini diyakini telah berlangsung lebih dari 200–300 tahun dan berawal dari tokoh ulama setempat seperti KH Imam Mahyin dan leluhurnya.
Awalnya, tradisi ini muncul karena kebiasaan para kiai yang menjalankan puasa Syawal selama enam hari. Selama puasa, mereka tidak menerima tamu. Baru setelah selesai, tepat pada hari ke-8 Syawal, masyarakat diperbolehkan bersilaturahmi.
Dari sinilah lahir tradisi kupatan sebagai momentum “lebaran kedua” bagi masyarakat.
Ciri Khas Kupatan Durenan
Kupatan di Durenan memiliki keunikan yang tidak ditemukan di banyak daerah lain:
• Silaturahmi besar-besaran dilakukan justru pada hari kupatan
• Setiap rumah membuka “open house” untuk siapa saja
• Hidangan utama adalah ketupat dengan sayur tewel (nangka muda)
• Ribuan orang datang, bahkan dari luar daerah
Tradisi ini bahkan menjadi magnet budaya dan wisata karena mampu menarik banyak pengunjung setiap tahunnya.
Tradisi Kupatan di Tulungagung: Sederhana Tapi Sarat Makna
Berbeda dengan Trenggalek yang cenderung meriah, tradisi kupatan di Tulungagung lebih sederhana namun tetap penuh filosofi.
Gantung Ketupat di Pintu Rumah
Salah satu ciri khas kupatan di Tulungagung adalah:
• Ketupat digantung di depan rumah
• Menjadi simbol keberkahan dan penolak bala
• Penanda bahwa tuan rumah siap menerima tamu
Tradisi ini menunjukkan bahwa kupatan bukan hanya soal makanan, tetapi juga simbol keterbukaan dan persaudaraan.
Silaturahmi dan Berbagi
Masyarakat Tulungagung juga merayakan kupatan dengan:
• Saling berkunjung antar tetangga
• Membagikan ketupat dan lauk
• Mengadakan doa bersama atau selametan
Nilai utama yang ditonjolkan adalah kebersamaan dan gotong royong, bukan kemewahan.
Makna Filosofis Ketupat dalam Tradisi Kupatan
Ketupat bukan sekadar makanan khas Lebaran. Dalam budaya Jawa, ketupat memiliki makna mendalam.
Filosofi “Ngaku Lepat”
Istilah “kupat” diyakini berasal dari filosofi Jawa:
• Ngaku lepat → mengakui kesalahan
• Laku papat → empat tindakan spiritual
Makna ini menunjukkan bahwa kupatan adalah simbol:
• Introspeksi diri
• Permohonan maaf
• Penyucian hati setelah Ramadhan
Ketupat sendiri telah lama menjadi simbol budaya yang menggabungkan nilai lokal dan ajaran Islam dalam satu tradisi yang harmonis.
Kupatan sebagai Akulturasi Islam dan Budaya Jawa
Tradisi kupatan merupakan contoh nyata akulturasi antara budaya Jawa dan ajaran Islam.
Para wali, seperti Sunan Kalijaga, menggunakan pendekatan budaya untuk menyebarkan Islam, termasuk melalui simbol-simbol seperti ketupat.
Hasilnya, kupatan menjadi:
• Media dakwah yang halus
• Tradisi yang mudah diterima masyarakat
• Warisan budaya yang bertahan hingga sekarang
Bahkan, penelitian menyebut kupatan sebagai sarana pewarisan nilai spiritual dan sosial kepada generasi muda.
Perubahan Tradisi Kupatan di Era Digital
Di era modern, tradisi kupatan mulai mengalami perubahan, namun tidak kehilangan esensinya.
Perubahan yang Terjadi:
• Silaturahmi mulai dilengkapi dengan media sosial
• Kupatan menjadi konten budaya dan wisata
• Promosi digital meningkatkan popularitas tradisi
Namun demikian, nilai utama kupatan tetap bertahan, yaitu:
• Mempererat ukhuwah
• Menjaga tradisi leluhur
• Menguatkan identitas budaya lokal
Kesimpulan: Kupatan, Lebih dari Sekadar Tradisi
Tradisi kupatan di Trenggalek dan Tulungagung bukan hanya perayaan pasca-Lebaran, tetapi juga:
• Warisan budaya yang kaya sejarah
• Simbol spiritual tentang maaf dan penyucian diri
• Media mempererat hubungan sosial
Di tengah arus modernisasi, kupatan tetap menjadi bukti bahwa tradisi lokal mampu bertahan dan bahkan semakin relevan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *