Kediri, 9 Juli 2025 – Antusiasme para guru SMP dari Kota Kediri terus mengalir dalam pelatihan Pengajar Koding dan Kecerdasan Artifisial (KA) Fase D. Kegiatan yang berlangsung di SMPN 1 Kediri ini telah memasuki hari ketiga dengan materi mendalam dari Modul 3 dan Modul 4, yakni Etika dan Risiko Kecerdasan Artifisial serta Komunikasi melalui Tools KA.
Diklat ini diselenggarakan oleh LPD Yayasan Roudlotut Tolibin Tulungagung sebagai bagian dari program nasional Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan dan Pendidikan Guru. Sebanyak 19 guru SMP dari berbagai sekolah di Kota Kediri mengikuti pelatihan ini dengan penuh semangat dan rasa ingin tahu yang tinggi.

Fokus Etika dan Risiko Penggunaan KA
Pada sesi pagi, peserta mempelajari berbagai prinsip penting dalam penggunaan KA generatif, termasuk transparansi, keadilan, serta tantangan seperti bias data, pelanggaran privasi, dan hoaks. Mereka juga diajak menganalisis fenomena deepfake, sebuah bentuk manipulasi media berbasis KA yang kini marak dan perlu diwaspadai dalam dunia pendidikan.
Langsung Praktik: Guru Buat Chatbot Sendiri!
Yang membuat pelatihan ini semakin menarik adalah sesi praktik langsung dari Modul 4, di mana peserta mencoba membuat chatbot sederhana menggunakan aplikasi PictoBlox yang terhubung dengan ChatGPT. Ini merupakan pengalaman baru bagi banyak peserta—menjadikan guru tidak hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga pencipta solusi berbasis teknologi.
“Saya sangat terkesan, ternyata kami bisa membuat chatbot untuk pembelajaran di kelas. Ini sangat aplikatif!” ujar salah satu peserta.

Komunikasi Efektif dengan Bantuan KA
Guru-guru juga dikenalkan pada cara menyusun input yang efektif dalam sistem KA, memahami konsep input-proses-output, serta pengenalan klasifikasi data menggunakan supervised learning. Aktivitas ini dirancang agar guru bisa membawa kembali pengetahuan tersebut ke ruang kelas dalam bentuk pengalaman belajar yang interaktif dan kontekstual.
Guru Sebagai Agen Perubahan Digital
Melalui pelatihan ini, guru diharapkan mampu menjadi pionir dalam menghadirkan pendidikan berbasis teknologi yang tidak hanya canggih, tetapi juga beretika dan bertanggung jawab.
“Kami ingin guru menjadi agen perubahan—bukan hanya melek teknologi, tapi juga bijak dalam menggunakannya untuk mendidik generasi masa depan,” ujar salah satu fasilitator dari LPD Yayasan Roudlotut Tolibin.
Dengan pelatihan seperti ini, Kota Kediri menunjukkan komitmennya dalam menyongsong masa depan pendidikan yang adaptif dan transformatif melalui penguasaan teknologi KA dan koding.