Kediri, 7 Juli 2025 — Transformasi digital di dunia pendidikan semakin nyata. Sebanyak 19 guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) tingkat SMP se-Kota Kediri mulai hari ini mengikuti Program Diklat Pengajar Koding dan Kecerdasan Artifisial (KA) Fase C di Aula SMP Negeri 1 Kediri.

Kegiatan yang digelar mulai tanggal 7 hingga 11 Juli 2025 ini diselenggarakan oleh Lembaga Penyelenggara Diklat (LPD) Yayasan Roudlotut Tholibin dari Tulungagung, dengan menghadirkan dua fasilitator berpengalaman, yakni Bapak Khotibul Umam dan Ibu Meisanti.

Diklat dibuka secara resmi oleh Kepala SMPN 1 Kediri, Ibu Satriani Widyawati Rahayu, S.Pd., M.Pd., yang sekaligus mewakili Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya peran guru TIK dalam menyiapkan generasi muda yang tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis, kreatif, dan bertanggung jawab di era digital.

“Melalui diklat ini, kami berharap guru-guru TIK bisa menjadi agen perubahan yang mampu membimbing siswa memahami dasar koding, literasi digital, hingga etika penggunaan kecerdasan artifisial,” ujar Satriani.

Setelah acara pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan paparan kebijakan pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial oleh Bapak Budi Pranoto, selaku Kasi Pembinaan GTK Dinas Pendidikan Kota Kediri. Dalam paparannya, Budi menegaskan bahwa penguasaan keterampilan digital mutlak diperlukan agar siswa Indonesia mampu bersaing di era Revolusi Industri 4.0.

Materi diklat mengacu pada kebijakan transformasi pendidikan nasional, yang menargetkan guru dan peserta didik memiliki kemampuan berpikir komputasional, memahami etika digital, dan siap menghadapi tantangan perubahan teknologi yang cepat.

“Saat ini Indonesia masih membutuhkan jutaan talenta digital hingga 2030. Guru-guru kita harus siap membekali siswa dengan keterampilan masa depan sejak jenjang pendidikan dasar,” jelas Budi.

Program diklat Fase C ini menjadi tahap awal yang membekali guru dengan pemahaman konsep dasar teknologi digital, pengamanan informasi pribadi, hingga kemampuan memproduksi konten digital. Harapannya, guru-guru TIK di Kediri bisa menjadi pionir yang mendukung kebijakan “Go Digital” di sekolah masing-masing.

Selama lima hari ke depan, para peserta akan mendapatkan pendampingan intensif, praktik produksi konten digital, hingga diskusi strategi pembelajaran koding dan KA yang adaptif dengan kondisi sekolah.

Diklat ini diharapkan menjadi langkah konkret meningkatkan kompetensi guru dan menyiapkan generasi muda Indonesia agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta dan inovator di era digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *