stan kupatan sederhana rt 01 rw 02 desa bejistan kupatan sederhana rt 01 rw 02 desa beji

Malam Gerimis, Semangat Tetap Hangat di Desa Beji
Malam itu, Jumat 27 Maret 2026, suasana di Desa Beji terasa berbeda.
Sejak pukul 19.30 WIB, warga RT 01 RW 02 mulai berkumpul. Gerimis turun perlahan, membasahi jalan kampung yang diterangi lampu-lampu sederhana.
Namun, hujan tidak menjadi penghalang.
Justru di tengah rintik itulah, kehangatan terasa semakin nyata. Warga tetap datang, membawa ketupat, lauk-pauk, dan semangat kebersamaan dalam sebuah tradisi yang selalu dinanti: kupatan massal.
Enam Kelompok, Satu Misi: Berbagi untuk Semua
Kegiatan kupatan ini dikemas dengan penuh kebersamaan. Warga dibagi menjadi enam kelompok, yang masing-masing menyiapkan hidangan ketupat untuk dibagikan.
Di sepanjang lingkungan RT, berdiri beberapa stan sederhana yang berjajar.
Baca juga :Tradisi Kupatan di Trenggalek dan Tulungagung: Sejarah, Makna, dan Keunikannya di Tengah ModernisasiPengantar: Kupatan, Tradisi Lebaran Kedua yang Sarat Makna

Bukan untuk berjualan, melainkan untuk berbagi secara gratis.
Siapa saja boleh mampir:
• Warga sekitar
• Tamu dari luar
• Pengendara yang kebetulan melintas
Semua disambut dengan ramah, dipersilakan duduk, dan menikmati ketupat hangat di tengah suasana malam yang syahdu.

Ketua RT: “Gerimis Tidak Mengurangi Semangat Berbagi”
Menurut Ketua RT 01 RW 02, Heru Purnomo, kegiatan ini menjadi bukti kuatnya semangat kebersamaan warga.
“Kegiatan ini kami laksanakan tanggal 27 Maret 2026 mulai pukul 19.30 WIB. Walaupun gerimis, Alhamdulillah warga tetap antusias. Ini menunjukkan bahwa semangat berbagi dan kebersamaan masih sangat kuat,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa kupatan bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga bentuk nyata rasa syukur.
“Kupatan ini adalah wujud syukur kami setelah Idul Fitri 1447 H, sekaligus bentuk sedekah. Harapannya, kegiatan ini membawa berkah bagi semua, baik warga sini maupun siapa saja yang datang,” tambahnya.
Kupatan: Tradisi yang Sarat Makna

Baca Juga : Kupatan Durenan Trenggalek: Saat Ribuan Rumah Terbuka dan Ketupat Menjadi Simbol Maaf yang NyataPagi itu di Durenan, Trenggalek, tidak ada pintu yang tertutup.

Kupatan merupakan bagian dari rangkaian Idul Fitri yang penuh makna.
Dalam filosofi Jawa, ketupat melambangkan:
• Ngaku lepat (mengakui kesalahan)
• Simbol permohonan maaf
• Wujud kebersamaan dan kepedulian
Melalui kupatan, masyarakat diajak untuk tidak hanya merayakan, tetapi juga merekatkan kembali hubungan antar sesama.
Sedekah yang Menghangatkan di Tengah Rintik Hujan
Kupatan massal ini menjadi lebih dari sekadar kegiatan sosial.
Ia adalah:
• Wujud rasa syukur setelah Ramadhan
• Sedekah kolektif warga
• Simbol gotong royong yang masih hidup
Di bawah gerimis, warga tetap berdiri di stan.
Menyambut setiap tamu dengan senyum.
Membagikan ketupat dengan penuh keikhlasan.
Tidak ada yang terasa berat, karena semua dilakukan dengan hati.
Penutup: Malam yang Penuh Makna di Desa Beji
Malam itu mungkin basah oleh hujan,
namun hati para warga justru terasa hangat.
Kupatan massal di RT 01 RW 02 Desa Beji membuktikan bahwa:
• Tradisi masih hidup
• Kebersamaan masih kuat
• Dan kebaikan selalu menemukan jalannya
Di tengah dunia yang semakin sibuk,
kegiatan sederhana seperti ini justru menjadi pengingat:
bahwa kebahagiaan sejati hadir saat kita berbagi dan saling menguatkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *